Strategi Promosi Kesehatan dalam Meningkatkan Kualitas Sanitasi Lingkungan

Rahmi Yuningsih

Abstract

Improvement of sanitation, environment and clean water, will substantially reduce the level of pain and severity of various diseases that can improve the degree of public health. But Indonesia still faces Open Defecation Free (ODF) which pollutes the environment. Indonesia ranks second after India (626 million people) as the country with the most ODF, which were 63 million people. In Serang Municipality, Banten Province, there are still 27.2% of people doing defecation in rivers, rice fields and others. The important factor causing it is the habit. The purpose of this paper is to discuss health promotion strategies consisting of advocacy efforts, social support and community empowerment in improving the quality of sanitation in Serang Municipality. The data is the result of group research conducted by researchers at the Research Center of the Expertise Agency of the DPR RI. The study was conducted in Serang Municipality in March 2019. Apart from the habitual problem, there are still many people who defecate in the absence of hygienic toilet facilities at home and ineffective communal toilet programs. The difficulty of getting clean water in the Serang Municipality has caused people further reluctant to make and use healthy latrines. The local government has implemented a health promotion strategy which includes advocacy for DPR and DPRD members to prioritize sanitation issues in Serang Municipality; increase social support from community leaders and conduct community empowerment.

 

Perbaikan terhadap sanitasi, lingkungan dan air bersih, secara substansial akan mengurangi tingkat kesakitan dan tingkat keparahan berbagai penyakit sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Namun, Indonesia masih dihadapi masalah sanitasi yaitu perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang mencemari lingkungan. Indonesia berada di urutan kedua setelah India (626 juta orang) sebagai negara dengan perilaku BABS terbanyak yaitu 63 juta orang. Begitu pun dengan Kota Serang, masih terdapat 27,2% masyarakat melakukan BABS seperti di sungai, sawah dan lainnya. Penyebab utamanya adalah faktor kebiasaan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui strategi promosi kesehatan yang terdiri dari upaya advokasi, dukungan sosial dan pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kualitas sanitasi di Kota Serang. Data dalam tulisan ini merupakan hasil penelitian kelompok bersama Tim Peneliti pada Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI. Penelitian kualitatif dilakukan di Kota Serang pada bulan Maret 2019. Selain masalah kebiasaan, penyebab masih banyaknya masyarakat BABS adalah tidak tersedianya sarana jamban sehat di rumah dan tidak efektifnya program jamban komunal. Sulitnya mendapatkan air bersih di Kota Serang membuat masyarakat lebih enggan membuat dan menggunakan jamban sehat. Oleh karena itu, pemerintah daerah setempat melakukan strategi promosi kesehatan yang meliputi advokasi kepada anggota DPR dan DPRD agar memprioritaskan masalah sanitasi lingkungan di Kota Serang; meningkatkan dukungan sosial dari tokoh masyarakat serta melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk tidak BABS.


Keywords

promosi kesehatan; sanitasi; BABS

Full Text:

pdf

References

Abeng, A. T., Ismail, D., & Huriyati, E. (2014). Sanitasi, Infeksi, dan Status Gizi Anak Balita di Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 10(3), 159–168.

Agustini, A. (2014). Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.

Daud, R. A. K. (2000). Hubungan antara Tingkat Pendidikan, Pendapatan dan Perilaku Masyarakat dengan Kualitas Sanitasi Lingkungan Pesisir Pantai Desa Huangobotu Kecamatan Kabila Kabupaten Gorontalo (Tesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dinas Kesehatan Kota Serang. (2018). Profil Kesehatan Kota Serang Tahun 2017. Serang: Dinas Kesehatan Kota Serang.

Hapsari, D., Sari, P., & Pradono, J. (2009). Pengaruh Lingkungan Sehat, dan Perilaku Hidup Sehat terhadap Status Kesehatan. Buletin Penelitian Kesehatan, 40–49.

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2019). Monitoring Data STBM. Retrieved from http://monev.stbm.kemkes.go.id/index.php/pilar_1, on 22 Juli 2019.

Mara, D., Lane, J., Scott, B., & Trouba, D. (2010). Sanitation and Health. Jurnal PLoS Medicine, 7(11), 1–7.

Maulana, H. D. J. (2007). Promosi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.

Profil Sanitasi Kota Serang. Retrieved from http://ppsp.nawasis.info/dokumen/perencanaan/sanitasi/pokja/bp/kota.serang/Bab%20III%20Profil%20Sanitasi%20Kota%20Serang.docx, on 22 Juli 2019.

Setyabudi, R. G. & Dewi, M. (2017). Analisis Strategi Promosi Kesehatan dalam Rangka Meningkatkan Kesadaran Hidup Sehat oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM. Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Komunikasi, 12(1), 81–100.

Simpson-Hebert, M. & Wood, Sa. (1998). Sanitation Promotion. Geneva: WHO.

Soemirat. (2011). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Taufan. (2019, Oktober). Hadirkan Kampung Sehati Di Kota Serang. Retrieved from https://www.dompetdhuafa.org/post/detail/9743/hadirkan-kampung-sehati-di-kota-serang, on 15 November 2019.

Tim Pikiran Rakyat. (2019, Maret 21). 27,20 Persen Warga Kota Serang Masih Dolbon. Retrieved from https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2019/03/21/2720-persen-warga-kota-serang-masih-dolbon, on 22 Juli 2019.

Tim Redaksi. (2017, Januari 6). 2016, Angka Kematian Ibu Hamil di Kota Serang Meningkat. Retrieved from https://www.radarbanten.co.id/2016-angka-kematian-ibu-hamil-di-kota-serang-meningkat/, on 26 Juli 2019.

Utami, T. N., et al. (2015). Perspektif Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Budi Utama.

WHO. (2010). Water Sanitation Hygiene. Retrieved from https://www.who.int/water_sanitation_health/monitoring/jmp2012/fast_facts/en/, on 22 Juli 2019.

Widhana, D. H. (2017, April 13). Waspada, Tinja Bisa Membunuhmu. Retrieved from https://tirto.id/waspada-tinja-bisa-membunuhmu-cmCl, on 22 Juli 2019.

Winarti, A. & Nurmalasari, S. (2016). Hubungan Perilaku Buang Air Besar (BAB) dengan Kejadian Diare di Desa Krajan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten. Jurnal Involusi Kebidanan, 7(12), 13–25.

Yusdiansyah, I. (2019, 9 Maret). BABS Masih Tinggi, Kelurahan Banjar Agung Lakukan Gerakan Gardu Jaga. Retrieved from https://www.biem.co/read/2019/03/09/37133/babs-tinggi-kelurahan-banjar-agung-lakukan-gerakan-gardu-jaga/, on 23 September 2019.

% Warga Kota Serang Masih BAB di Kebun. Retrieved from https://www.alinea.id/nasional/38-warga-kota-serang-masih-bab-di-kebun-b1XcR9ize, on 26 Juli 2019.


DOI: https://doi.org/10.22212/aspirasi.v10i2.1391

Refbacks

  • There are currently no refbacks.