Pertumbuhan Ekonomi Provinsi di Indonesia Berdasarkan Indeks Komposit Pertumbuhan Inklusif dan Faktor yang Memengaruhinya [Economic Growth of Provinces in Indonesia Based on Inclusive Growth Composite Index and The Influence Factors]

Saputri Kusumaningrum, Risni Julaeni Yuhan
| Abstract views: 1323 | views: 1502

Abstract

In 2016, the high growth of Gross Regional Domestic Product (GRDP) in several provinces in Indonesia was also followed by high income inequality, poverty and unemployment, such as in Papua, Gorontalo, and Southeast Sulawesi. This condition is not in accordance with the concept of inclusive growth. The concept explains that in achieving economic growth all levels of society must participate in the process and economic growth can also be enjoyed by all levels of society. Therefore, the purpose of this study was to find out the level of growth of inclusive provincial achievements in Indonesia in 2016 and analyze the factors that influence these achievements. This study uses 2 methods, namely the inclusive growth composite index adopted from McKinley (2010) and multiple regression to answer related factors that influence it. The data used is sourced from the BPS, the Ministry of Health, and Bank Indonesia. The results show that there are no provinces in Indonesia that have achieved inclusive growth that excelled (index values 8 to 10) in 2016. Most provinces in Indonesia achieved satisfactory inclusive growth (index values 4 to 7) and there were two provinces having unsatisfactory categories (index value < 4) namely Papua and East Nusa Tenggara. In addition, this study analyzes the factors that influence the inclusive growth of provinces in Indonesia using multiple linear regression analysis. The results of regression analysis show that gross fixed capital formation, trade openness, and the ratio of MSME credit to GRDP affect inclusive growth.

Keywords: economic growth, inclusive growth, inclusive growth composite index

Abstrak

Pada tahun 2016, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi di beberapa provinsi di Indonesia ternyata diikuti pula ketimpangan pendapatan, kemiskinan, dan penganggurannya yang tinggi, seperti di Papua, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara. Kondisi tersebut tentu saja belum sesuai dengan konsep pertumbuhan inklusif, di mana dalam mencapai pertumbuhan ekonomi maka seluruh lapisan masyarakat harus ikut serta dalam prosesnya dan dapat menikmati hasilnya. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat capaian pertumbuhan inklusif provinsi di Indonesia pada tahun 2016 dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi capaian tersebut. Pendekatan penelitian menggunakan 2 metode, yaitu indeks komposit pertumbuhan inklusif yang diadopsi dari McKinley (2010) dan regresi berganda untuk menjawab terkait faktor-faktor yang memengaruhinya. Data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik, Kementerian Kesehatan, dan Bank Indonesia. Hasil analisis menujukkan bahwa ternyata belum ada provinsi di Indonesia yang memiliki capaian pertumbuhan inklusif berkategori unggul (nilai indeks: 8-10) selama tahun 2016. Sebagian besar provinsi di Indonesia mencapai pertumbuhan inklusif dengan kategori memuaskan (nilai indeks: 4-7) dan terdapat dua provinsi yang memiliki kategori tidak memuaskan (nilai indeks: < 4), yaitu Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan inklusif provinsi di Indonesia menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pembentukan modal tetap bruto, keterbukaan perdagangan, dan rasio kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap PDRB memengaruhi pertumbuhan inklusif.

Kata kunci: pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan inklusif, indeks komposit pertumbuhan inklusif

Keywords

pertumbuhan ekonomi; pertumbuhan inklusif; indeks komposit pertumbuhan inklusif; economic growth; inclusive growth; inclusive growth composite index

Full Text:

PDF

References

Buku:

Badan Pusat Statistik. (2016). Indikator pasar tenaga kerja Indonesia Agustus 2016. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2017a). Produk Domestik Regional Bruto provinsi-provinsi di Indonesia Menurut Pengeluaran 2012-2016. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2017b). Produk Domestik Regional Bruto provinsi-provinsi di Indonesia menurut lapangan usaha 2012-2016. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2017c). Statistik keuangan pemerintah provinsi 2014-2017. Jakarta: BPS.

Bappeda DIY & BPS DIY. (2016). Analisis pertumbuhan inklusif Daerah Istimewa Yogyakarta 2011-2015. Yogyakarta: Bappeda DIY dan BPS DIY.

GMS-DAN. (2014). Inclusive development in The Greater Mekong Subregion: An assessment. Phnom Penh: Greater Mekong Subregion Development Analysis Network Publication.

Kementerian Kesehatan. (2017). Profil kesehatan Indonesia tahun 2016. Jakarta: Kemenkes.

LPPI & BI. (2015). Profil bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Jakarta: LPPI dan BI.

Suryanarayana, M.H. (2013). Inclusive growth: A sustainable perspective. India: UNDP.

Jurnal dan Working Paper:

Anand, R., Mishra, S., & Peiris, S.J. (2013). Inclusive growth: Measurement and determinants. IMF Working Paper.

Aoyagi, C. & Ganelli, G. (2015). Asia’s quest for inclusive growth revisited. IMF Working Paper.

Azwar. (2016). Pertumbuhan inklusif di Sulawesi Selatan dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Jurnal BPPK, 9(2), 216-242.

Cahyadi, N.M.A.K., Sasongko, & Saputra, P.M.A. (2018). Inclusive growth and leading sector in Bali. Economic Journal of Emerging Markets, 10(1), 99-110.

Khan, A., Khan, G., Safdar, S., Munir, S., & Andleeb, Z. (2016). Measurement and determinants of inclusive growth: A case study of Pakistan (1990-2012). The Pakistan Development Review.

Klasen, S. (2010). Measuring and monitoring inclusive growth: Multiple definitions, open questions, and some constructive proposals. ADB Sustainable Development Working Paper Series.

Mathers, N. & Slater, R. (2014). Social protection and growth: Research synthesis. Australia: Department of Foreign Affairs and Trade Australian Government.

McKinley, T. (2010). Inclusive growth criteria and indicators: An inclusive growth index for diagnosis of country progress. ADB Sustainable Development Working Paper Series.

Singh, M. & Chaturvedi, S.K. (2016). Trade and inclusive. International Journal of Management Humanities and Social Sciences, 1(1).

Sitorus, A.V.Y. & Arsani, A.M. (2018). Komparasi pertumbuhan ekonomi inklusif di 33 Provinsi Indonesia Tahun 2010-2015: Studi Kasus menggunakan metode pendekatan ADB, WEF, dan UNDP. Jurnal Perencanaan Pembangunan (The Indonesian Journal of Development Planning), 2(1), 64-77.

Udah, B.E. & Ebi, B.O. (2016). Diagnosis of Nigeria inclusive growth: A composite index approach. British Journal of Economics, Finance and Management Sciences, 12(2), 49-58.

Tesis:

Sanjaya, I.M. (2014). Inklusi keuangan dan pertumbuhan inklusif sebagai strategi pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tesis. Bogor: IPB.

Sholihah, D.H.A. (2014). Pertumbuhan inklusif: Fakor-faktor yang mempengaruhi dan dampaknya terhadap pertumbuhan kelas menengah di Indonesia. Tesis. Bogor: IPB.

Website:

Ali, S.A. & Ali, H.A. (2014). Trends in inclusive growth in Egypt 1991-2011. Diperoleh tanggal 9 Mei 2018, dari http://academics.nawar.us/Abou_Ali_IG_2014.pdf.

Andika. (2016). Nilai Investasi ke Kota Jambi Tinggi, Ini Penyebabnya. Diperoleh tanggal 13 Agustus 2018, dari http://jambi.tribunnews.com/2016/08/20/nilai-investasi-ke-kota-jambi-tinggi-ini-penyebabnya.

BPS. (2018a). Persentase rumah tangga menurut provinsi dan memiliki akses terhadap sanitasi layak, 1993-2017. Diperoleh tanggal 29 April 2018, dari https://www.bps.go.id/statictable/2016/01/25/1900/persentase-rumah-tangga-menurut-provinsi-dan-memiliki-akses-terhadap-sanitasi-layak-1993-2017.html.

BPS. (2018b). Persentase penduduk yang memiliki/menguasai telepon seluler menurut provinsi dan klasifikasi daerah, 2012-2017. Diperoleh tanggal 29 April 2018, dari https://www.bps.go.id/dynamictable/2015/11/10/985/persentase-penduduk-yang-memiliki-menguasai-telepon-seluler-menurut-provinsi-dan-klasifikasi-daerah-2012-2017.html.

Pratiwi, G. (2016). Ini alasan UMKM Jabar sulit maju. Diperoleh tanggal 13 Agustus 2018, dari http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2016/05/11/ini-alasan-umkm-jabar-sulit-maju-368842.

Riri, T. (2017). Minat Warga Bengkulu untuk berinvestasi masih rendah. Diperoleh tanggal 13 Agustus 2018, dari http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2017/ 09/20/319353/peran-umkm-terhadap-pertumbuhan-ekonomi/.

Solehudin, I. (2016). Indonesia timur butuh pelabuhan ekspor impor. Diperoleh tanggal 13 Agustus 2018, dari https://www.jawapos.com/ekonomi/25/07/2016/indonesia-timur-butuh-pelabuhan-ekspor-impor-.

Wicaksono, P.E. (2017). Pembangunan infrastruktur gencar, peringkat daya saing RI meroket. Diakses tanggal 13 Agustus 2018, dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/3063694/pembangunan-infrastruktur-gencar-peringkat-daya-saing-ri-meroket.

World Bank. (2009). What is inclusive growth?. Diperoleh tanggal 6 Februari 2018, dari http://siteresources.worldbank.org/INTDEBTDEPT/Resources/468980-1218567884549/WhatIsInclusiveGrowth20081230.pdf.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.