Dampak Politik Identitas Pada Pilpres 2019: Perspektif Populisme [The Impact of Identity Politics On President Election 2019: Populism Perspective]

Aryojati Ardipandanto
| Abstract views: 124 | views: 38

Abstract

Some people said that populism through identity politics played a vital role in the 2019 Presidential Elections campaign rallies, and it was considered to be a threat to the unity of the nation. The kind of populism at play in the 2019 Presidential Elections was populism that was based on identity politics, mainly on religion. The disparity between supporters of both candidates was set created in such particular condition that it created an image of opposing groups of religiously pious supporters against those who practice religion loosely. From this point of view, this paper was established based on identification of problems in the danger of populism practiced in the 2019 Presidential Elections. This paper employs analytical descriptive literature method . It concludes that the danger of populism in the 2019 Presidential Elections was basically caused by separation of groups of people based on religious sentiments, a practice that was often supported by both candidates and allowed some people to take advantage of the situation to create disunity of Indonesia as a nation. In the future, both the Government and the Legislators have to involve community leaders in educating the public about good political and democratic practices, so as to ensure better democracy in Indonesia from time to time, based on the foundation of Pancasila-led Democracy.

Abstrak

Berbagai kalangan menyebutkan bahwa populisme dengan politik identitas sangat kuat pengaruhnya dalam kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, dimana hal itu dinilai akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Populisme yang terjadi terutama lebih pada strategi politik pemenangan Pilpres yang bersifat politik identitas berdasarkan agama. Disparitas antara pendukung antar Capres/Cawapres dibuat sedemikian rupa sehingga perbedaannya terkesan pihak yang menjalankan nilai-nilai agama disatu sisi, dan di pihak lainnya adalah yang tidak mengamalkan nilai-nilai agama dengan benar. Dari kondisi tersebut, kajian ini ditulis berdasarkan perumusan masalah terkait apa bahaya populisme yang dipraktekkan dalam Pilpres 2019. Tulisan ini merupakan analisa deskriptif berdasarkan studi pustaka. Tulisan ini menemukan bahwa bahaya populisme dalam Pilpres 2019 adalah karena pengkotakan isu agama dalam persaingan politik diperkuat oleh berbagai pihak termasuk peserta Pilpres, yang mengakibatkan situasi politik yang dihasilkan dari hal itu menjadi rentan untuk ditunggangi dengan agenda politik oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memang bertujuan untuk memecah-belah bangsa dan merongrong kedaulatan NKRI. Ke depan, baik Pemerintah maupun Lembaga Perwakilan Rakyat harus mengajak para tokoh masyarakat untuk bekerja sama meningkatkan pendidikan politik dan pendidikan berdemokrasi yang lebih baik, dengan berlandaskan pada Demokrasi Pancasila yang dibangun atas kesadaran bahwa NKRI adalah suatu Negara yang bangsanya majemuk namun harus tetap bersatu agar demokrasi substansial dapat terwujud dengan semakin baik.

Keywords

Populism; Politics of Identity; Presidential Elections 2019; Populisme; Politik Identitas; Pemilihan Presiden; Pilpres 2019.

References

Akbar Putra, Rizki. “Pengamat Pasca Pemilu: Pendidikan Demokrasi Penting untuk Membangun Persatuan; Wawancara dengan Pengamat Politik, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) oleh Jurnalis Deutsche Welle, Rizki Akbar Putra,” 28 Juni 2019, diakses 27 Juli 2019. https://www.dw.com/id/pengamat-pasca-pemilu-pendidikan-demokrasi-penting-untuk-membangun-persatuan.

Ar-rasyid, Harun. “Populisme, Politik Identitas dan Pemilu 2019,” detiknews, 11 Mei 2019, diakses 2 Juli 2019. https://news.detik.com/kolom/d-4545249/populisme-politik-identitas-dan-pemilu-2019.

Basuki, Dian. “Pamor Pileg Tenggelam oleh Pilpres,” Indonesiana, 27 April 2019, diakses 3 Juli 2019. https://www.indonesiana.id/read/130137/pamor-pileg-tenggelam-oleh-pilpres.

Canovan, Margaret. ed. Yves Me´ny. Democracies and the populist challenge. Basingstoke: Palgrave, 2002.

Fukuyama, Francis. Against Identity Politics. New York: Foreign Affairs, 2018.

Hefner, Robert W. Politik Multikulturalisme: Menggugat Realitas Kebangsaan. Yogyakarta: Impulse, 2007.

Heller, Agnes dan Sonja Puntscher Riekmann. Biopolitics: The Politics of The Body, Race and Nature. Brookfield: Avebury, 1996.

Kellas, James G. The Politics of Nationalism and Ethnicity, Edisi II. New York: ST Martin’s Press, 1988.

Kyle, Jordan dan Limor Gultchin. Populists in Power Around the World. London: Tony Blair Institute, 1997.

Laclau, Ernesto. On Populist Reason. London: Verso, 2005.

Melendez dan Cristobal. “Political Identities: The Missing Link in The Study of Populism,” Journal Party Politics Volume 25 (July 2017). Chile: Diego Portales University.

Moffit, Benjamin. The Global Rise of Populism: Performance, Political Style and Representation. Redwood City: Stanford University Press, 2016.

Mudde, Cas. The Populist Zeitgeist. Government and Opposition. Cambridge: Cambridge University Press, 2004.

Müller, Jan-Werner. Parsing populism. Who is and who is not a populist these days? New York: Juncture, 2015.

Pelfini, Alejandro. ed. Boike Rehbein. Global and National Political Elites in South America: Limited transnationalization processes and the persistence of inequality In Globalization and Inequality Inemerging Societies. Basingstoke: Palgrave-MacMillan, 2015.

Putri, Zunita dan Dwi Andayani. “MK Tolak Gugatan Pilpres Prabowo-Sandiaga,” detiknews, 27 Juni 2019, diakses 6 September 2019. https://news.detik.com/berita/d-4603147/mk-tolak-gugatan-pilpres-prabowo-sandiaga.

Ristianto, Christoforus. “Pemaparan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi dalam diskusi dengan tema “Populisme Agama dalam Demokrasi Elektoral 2019” di Cikini, Jakarta Pusat,” kompas.com, 29 Mei 2019, diakses 29 Mei 2019. https://nasional.kompas.com/read/2019/05/29/20001181/politik-identitas-dianggap-sebagai-winning-template-di-pilpres-2019.

Ristianto, Christoforus. “Pandangan Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta, Adi Prayitno,” kompas.com, 15 Mei 2019, diakses 31 Juli 2019. https://nasional.kompas.com/read/2019/05/13/12132811/kalah-telak-di-sumbar-prestasi-jokowi-tak-mampu-luluhkan-politik-identitas. Schedler, Andreas. “Anti Political Establishment Parties.” Journal Party Politics Volume 2. Chile: Diego Portales University, 1996.

Stavrakakis, Yannis, Kioupkiolis, Alexandros, Katsambekis, Giorgos, Nikisianis, Nikos, dan Siomos, Thomas. Contemporary Left-wing Populism in Latin America: Leadership, Horizontalism, and Postdemocracy in Chávez’s Venezuela: Latin American Politics and Society. Caracas: Latin American, 2016.

Surahmat. “Review Toru Takahashi (Nikkei Asian Review),” mata-mata politik, 24 Juli 2019, diakses 31 Juli 2019. https://www.matamatapolitik.com/analisis-pidato-kemenangan-jokowi-bagaimana-diksi-ungkap-pesan-politiknya.

Urbinati, Nadia. Political Theory of Populism; Annual Review of Political Science, Vol. 22. New York: Forthcoming, 2019.

Zhacky, Mochamad. “Komisi II DPR Prioritaskan Revisi UU Pemilu di 2020,” detiknews, 14 November 2019, diakses 2 Januari 2020. https://news.detik.com/berita/d-4784680/komisi-ii-dpr-prioritaskan-revisi-uu-pemilu-di-2020.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.