Dampak Keterkaitan Ekonomi Pulau Sulawesi, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur terhadap Ekonomi Wilayah

Arman Arman, Setia Hadi, Noer Azam Achsani, Akhmad Fauzi
| Abstract views: 720 | views: 849

Abstract

Ketimpangan ekonomi antarwilayah di Indonesia masih terus berlangsung, di mana Pulau Jawa menguasai +60 persen aktivitas ekonomi. Penelitian ini menganalisis dampak keterkaitan ekonomi antarwilayah Pulau Sulawesi, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur. Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo diagregasi menjadi satu unit wilayah menjadi Sulawesi Lain. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat diagregasi menjadi satu unit wilayah menjadi Sulawesi Selatan. Data dasar tahun 2005 diupgrade ke tahun 2011 dengan menggunakan teknik RAS. Hasil analisis menunjukkan bahwa transaksi aliran barang antara wilayah Sulawesi Lain dengan Sulawesi Selatan masih sangat kecil. Kebutuhan input antara Sulawesi Lain dan Sulawesi Selatan lebih banyak dipasok dari wilayah Jawa Timur. Kedua wilayah tersebut lebih banyak bergantung pasokan aliran barang dari wilayah Jawa Timur. Keterkaitan ekonomi antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Lain terhadap Kalimantan Timur dipengaruhi aliran komoditas pertanian dan energi. Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Lain banyak memasok kebutuhan pangan, sedangkan wilayah Kalimantan memasok kebutuhan energi ke Sulawesi. Wilayah Jawa Timur memperoleh manfaat ekonomi yang paling besar akibat interaksi ekonomi dengan Sulawesi Selatan, Sulawesi Lain, dan Kalimantan Timur. Hasil interaksi memberikan pengaruh spillover yang sangat besar terhadap wilayah Jawa Timur. Pengaruh spillover mengindikasikan kinerja ekonomi wilayah Jawa Timur meningkat bila keterkaitan ekonomi (aliran barang) dengan Pulau Sulawesi dan Kalimantan Timur semakin kuat. Dampak keterkaitan ekonomi pada keempat wilayah menunjukkan Jawa Timur memperoleh manfaat yang lebih besar. Namun kinerja dan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur memberikan pengaruh spillover yang masih sangat kecil terhadap wilayah Sulawesi dan Kalimantan.

Keywords

ekonomi wilayah; keterkaitan ekonomi; model IRIO

Full Text:

PDF

References

Buku:

Daryanto, A. dan Hafizrianda, Y. (2010). Model-Model kuantitatif: Untuk perencanaan pembangunan ekonomi daerah. Bogor: IPB.

Hausmann, R., Hidalgo, C. A., Bustos, S., Coscia, M., Chung, S., Jimenez, J., Simoes, A., and Yildirim, M. A. (2011). The Atlas of economic complexit: Mapping paths to prosperity. Center for Internationl Development at Harvard University. Massachusetts.

Miller, R. E. and Blair, P. D (2009). Input output analysis: Foundations and extensions. Cambridge University Press.

Myrdal, G. (1968). Asian drama: An inquiry into the poverty of nations, London: Allan Lane.

Rustiadi, E. and Priyarsono, D. S. (2010). Regional development in Indonesia: Problems, policies, and prospect. regional development in indonesia. Bogor: Crestpent Press.

Badan Pusat Statistik. (2007). Sensus ekonomi nasional. Jakarta: BPS.

Badan Pusat Statistik. (2012). Perkembangan beberapa indikator utama sosial-ekonomi Indonesia. Jakarta:

BPS. Badan Pusat Statistik. (2014a). Sulawesi Utara dalam angka. Manado: BPS Provinsi Sulawesi Utara.

Badan Pusat Statistik. (2014b). Gorontalo dalam angka. Gorontalo: BPS Provinsi Gorontalo.

Badan Pusat Statistik. (2014c). Sulawesi Tengah dalam angka. Palu: BPS Provinsi Sulawesi Tengah.

Badan Pusat Statistik. (2014d). Sulawesi Tenggara dalam angka. Kendari: BPS Provinsi Sulawesi Tenggara.

Badan Pusat Statistik. (2014e). Sulawesi Selatan dalam angka. Makassar: BPS Provinsi Sulawesi Selatan.

Jurnal dan Working Paper:

Amiti, M. and Cameron, L. (2004). Economic geography and wages: The case of Indonesia. IMF Working Paper.

Chenery, H. B. and Watanabe, T. (1958). International comparasions of the structure of production. Econometrica, Vol. 26, 487-521.

Chenery, H. B., Shishido, S and T. Watanabe. (1962). The pattern of Japanese growth 1914-1954. Econometrica, 30(1), 98-139.

Feldman, S. J., McClain, D and Palmer, K. (1987). Source of structural change in The United States 1963-1978: An input output perspective. Review of Economics and Statistics, Vol. 69, 503-510.

Hill, H., Resosudarmo, B., and Vidyattama. (2008). Indonesia’s changing economic geography. CCAS Working Paper No. 12. Doshisha University.

Isard, W. (1951). Interregional and regional inputoutput analysis: A model of a space-economy. The Review of Econoic and Statistic, Vol. 33, 318- 328.

Kuznets, S. (1955). Economic growth and income inequality. The American Economic Association, 45(1), 1-28.

Kwangmoon, K., Secretario, F., Trinh, B., and Kaneko, H. (2011). Developing a bilateral input-output table in the case of Thailand and Vietnam: Methodology and application. 19th International Input-Output Conference-Austria.

LeSage, J. P., and Llano, C. (2007). A spatial interaction model with spatially structured origin and destination effect. Department of Finance an Economics, Texas State University-SanMarcos.

Morilla, C. G., Diaz-Salazar, G. L., and Cardenete, M. A. (2006). Economic and environmental efficiency using a social accounting matrix. International Society For Environmental Epidemiology Vol. 60, 774-786.

Trinh, B., Manh Hung, D., and Van Huan, N. (2013). Vietnam inter-regional input-output analysis: The bi-regional and 8-regional cases of Vietnam. Journal of Contemporary Management, Vol. 10, 11-20.

Tesis:

Arman. (2009). Peran pembangunan manusia/sosial dan interaksi spasial dalam penanggulangan kemiskinan dan pengangguran: Kasus Kabupaten Bogor. Tesis. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hastoto, E. (2003). Analisis disparitas pembangunan regional di Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo. Tesis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.