Kinerja Industri Manufaktur di Provinsi-Provinsi Sumatera Tahun 2010-2015 [Manufacturing Industry Performance in Sumatra Provinces 2010-2015]

Juli Panglima Saragih
| Abstract views: 453 | views: 943

Abstract

Manufaturing industry has given significant contribution to Indonesia’s gross domestic product since 2005-2010. Most of manufacturing industry in Sumatera island were mainly represented by agroindustry, and oil and gas industries. This research aims to analyze manufacturing industry performance in Sumatera island in terms of its share in Sumatra GDP and comparing it to total production of national manufacturing industry. This study uses Location Quotient methods to analyse contribution of manufacturing industry on Sumatra GDP. This study finds that Location Quotient of manufacturing industry of Sumatera island is overall less than 1 in period of 2010-2015. It indicates that manufacturing industry in Sumatra gives less significant contribution to overall of GDP of Sumatra. However, in terms of provinces in Sumatera island, the highest shares of manufactuting industry to GDP were in three provinces, namely, North Sumatra, Riau islands, and Riau provinces. Whilst in other provinces in Sumatra, the shares of industry to GDP were moderate and small. This study suggests that to improve the shares of industry in Sumatera island to GDP, the government must diversify its manufacturing industries from natural resource base to other local specific base resources. These findings should be accommodated in future policy to improve the economic growth in Sumatera island in particular and Indonesia in general.

Keywords: manufacturing industry, Location Quotient, performance of industry sector, gross domestic product, Sumatera Island

Abstrak

Industri manufaktur merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian nasional. Kontribusinya semakin meningkat terhadap PDB selama periode tahun 2005-2010. Industri manufaktur di Pulau Sumatera sebagian besar berbasis perkebunan, sumber daya alam (SDA), minyak, dan gas bumi. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan menganalisis kinerja industri manufaktur di Pulau Sumatera dengan menggunakan metode analisis Location Quotient (LQ). Estimasi penghitungan LQ menggunakan data-data industri manufaktur se-Sumatera dalam periode tahun 2010-2015. Dari hasil analisis LQ tersebut diperoleh antara lain bahwa industri manufaktur di Pulau Sumatera periode tahun 2010-2015 memiliki nilai LQ ˂ 1. Ini menunjukkan secara agregat industri manufaktur di Pulau Sumatera masih belum dapat diandalkan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi (PDB) regional Pulau Sumatera walaupun berkontribusi positif terhadap industri manufaktur nasional. Namun jika berdasarkan LQ provinsi, industri manufaktur tumbuh signifikan hanya terjadi di tiga provinsi, yakni Provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Riau. Sedangkan dua provinsi, yakni Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung ditemukan memiliki pertumbuhan moderat. Lima provinsi lainnya mengalami pertumbuhan yang sangat lambat dalam periode yang sama. Antara pulau di Indonesia, kontribusi industri manufaktur Pulau Sumatera relatif besar setelah Pulau Jawa dibandingkan dengan pulau lain di luar Pulau Jawa. Oleh karena itu, solusi yang dapat ditempuh adalah perlunya diversifikasi industri di Pulau Sumatera sesuai potensi sumber daya yang dimiliki untuk memperkuat struktur industri manufaktur di Pulau Sumatera tersebut. Diversifikasi industri dimaksud tidak hanya industri berbasis perkebunan dan sumber daya alam. Kebijakan industri nasional ke depan selayaknya memerhatikan temuan studi ini supaya pertumbuhan industri di Pulau Sumatera semakin optimal.

Kata kunci: industri manufaktur, kinerja sektor industri, Produk Domestik Bruto, Sumatera

Keywords

industri manufaktur; kinerja sektor industri; Produk Domestik Bruto; Sumatera; manufacturing industry; Location Quotient; performance of industry sector; gross domestic product; Sumatera Island

Full Text:

PDF

References

Buku dan Jurnal Ilmiah/Majalah Ilmiah:

Damayanthi, V. R. (2008). Proses industrialisasi di Indonesia dalam prespektif ekonomi politik. Journal of Indonesian Applied Economics, Vol. 2 No. 1 Mei 2008, Jawa Timur: Universitas Brawijaya, hlm.79.

Kartika, A. (2010). Sumatera Utara sebagai barometer industri perkebunan berbasis Kelapa Sawit. Jurnal Keuangan & Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Sumatera Utara: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Harapan, hlm.5.

Trianto, A. (2017). Analisis daya saing ekspor komoditi unggulan non-migas di Provinsi

Sumatera Selatan. Jurnal Derivatif, Lampung: FE Universitas Muhammadiyah Metro, diunduh 10 Februari 2017, dari http://fe.ummetro.ac.id/ejournal/index.php/JA/article/view/9/8, hlm. 2.

Kustanto, H., dkk. (2012). Reindustrialisasi dan dampaknya terhadap ekonomi makro serta

kinerja sektor industri di Indonesia. Jurnal Riset Industri, Vol. VI, No. 1, Th.2012, Jakarta:

Kementerian Perindustrian RI, hlm.105.

Hakim, M.A. (2009). Industrialisasi di Indonesia: Menuju kemitraan yang islami. Jurnal Hukum Islam, Volume 7, Nomor 1, Juni 2009, Jawa Tengah: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan, hlm.111.

Murtianingsih. (2015). Globalisasi dan korelasinya dengan industri manufaktur yang merupakan leading sektor perekonomian. Jurnal JIBEKA Volume 9, Nomor 2, Agustus 2015, Jawa Timur: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Asia Malang, hlm. 34.

Saimul, dkk. (2011). Analisis pengaruh ekspor industri manufaktur pada kinerja makro-ekonomi Indonesia. Jurnal Organisasi dan Manajemen, Volume 7, Nomor 2, September 2011, Jakarta: Universitas Terbuka, hlm.75.

Yanfitri, Y.K. (2010). Dinamika industri manufaktur dan respon terhadap siklus bisnis. Bulletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2010, Jakarta: Bank Indonesia, hlm.149.

Sumber Digital:

BKPM. (2017). Unindo Indonesia masuk 10 besar negara industri manufaktur. Diperoleh 1 Februari 2017, dari http://www.bkpm.go.id.

BPS. (2015). Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2015 tumbuh 5,04 persen tertinggi selama tahun 2015. Diperoleh 24 Januari 2017, dari www.bps.go.id.

Bisnisaceh. (2017). Ekspor sebagai penopang perekonomian Aceh. Diperoleh 2 Februari 2017, dalam http://www.bisnisaceh.com/.

Detikcom. (2017). Bangun 14 kawasan industri di luar Jawa, ini tantangan pemerintah. Diperoleh 5 Mei 2017, dari https://finance.detik.com/industri.

Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Riau. (2017). Industri manufaktur. Diperoleh 8 Februari 2017, dari http://sddkd.riau.go.id/.

Habadaily. (2017). Aceh butuh industri pengolahan ikan. Diperoleh tanggal 2 Februari 2017, dari http://habadaily.com/ekbis/.

Katadata. (2017). Industri manufaktur hadapi masalah. Diperoleh 6 Februari 2017, dari http://katadata.co.id/berita/.

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Kebijakan industri nasional tahun 2015-2019. Diperoleh 10 Februari 2017, dari www.kemenperin.go.id.

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Kawasan industri. Diperoleh 10 Februari 2017, dari www.kemenperin.go.id

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Kinerja industri manufaktur tahun 2015. Diperoleh 5 Februari 2017, dari www.kemenperin.go.id

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Menperin: Sektor industri pengolahan sumbang 19,9% PDB. diperoleh 1 Februari 2017, dari http://economy.okezone.com/read/.

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Menperin: Kawasan industri wujudkan pemerataan

ekonomi. Diperoleh 14 Februari 2017, dari www.kemenperin.go.id.

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Pertumbuhan industri manufaktur Sumbar 2016 lampau nasional. diperoleh 8 Februari 2017, dari http://www.antarasumbar.com/berita.

Kementerian Perindutrian RI. (2017). Pertumbuhan industri manufaktur melambat. Diperoleh 9 Februari 2017, dari http://economy.okezone.com/read/

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Rencana kerja Kementerian Perindustrian RI. Diperoleh 10 Februari 2017, dari www.kemenperin.go.id

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Setahun pemerintahan Jokowi-JK: Sektor industri menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Diperoleh 1 Februari 2017, dari http://kemenperin.go.id/artikel/.

Kementerian Perindustrian RI. (2017). Tingkatkan daya saing indonesia, kemenperin genjot peran litbang industri. Diperoleh 10 Februari 2017, dari www.kemenperin.go.id

Ma’ruf, A. (2012). Anatomi makro ekonomi regional: Studi kasus Provinsi DIY, Artikel, Penerbit FE-Universitas Negeri Semarang (Unnes). diperoleh 2 Februari 2-2017, dari http://ep.unnes.ac.id/wp-content/uploads/2012/03/03-Artikel-Maruf-09-Rev13.pdfhlm.

Pasaribu, R. B. (2017). Industri dan industrialisasi. diperoleh 16 Februari 2017, dari http://rowland_pasaribu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/35482/industri-dan-industrialisasi.

PT. Pertamina. (2017). Pertamina EP berhasil temukan cadangan migas di Jambi. diperoleh

Februari 2017, dari http://www.migasreview.com/post.

Tempo. (2017). Pertumbuhan industri. diperoleh 5 Mei 2017, dari https://www.tempo.co/topik/masalah/2537/pertumbuhan-industri.

Trianto, A. (2017). Analisis daya saing ekspor komoditi unggulan non-migas di Provinsi

Sumatera Selatan, Jurnal Derivatif, Penerbit FE Universitas Muhammadiyah Metro, Kota Metro Lampung. diperoleh 10 Februari 2017, dari http://fe.ummetro.ac.id/ejournal/index.php/

JA/article/view/9/8, hlm. 2.

US Bureau of Economics Analysis. (2017). Location quotient analysis. Diperoleh 20 Februari 2017, dari https://www.bea.gov/faq/index.cfm.

UNIDO. (2017). Competitive industrial performance report 2014. Diperoleh 10 Februari 2017, http://www.unido.org/.

Sumber Lain:

Amin, A. A. (2015). Peranan sektor industri pengolahan terhadap perekonomian dan

penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sulawesi Utara. Skripsi, Penerbit Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado Sulawesi Utara.

Savitri, D. (2008). Analisis identifikasi sektor unggulan dan struktur ekonomi Pulau Sumatera. Skripsi, Penerbit Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB hlm.15-16.

Masagus M. Ridhwan, dkk. (2015). Analisis daya saing dan strategi industri nasional di era masyarakat ekonomi ASEAN dan perdagangan bebas. Working Paper, WP/3/2015, hlm.3-4. Penerbit Bank Indonesia, Jakarta.

Peraturan Perundang-Undangan:

Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Nasional (RPJMN) 2015-2019.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.